Author: Ambar

TP. PKK Kab. Wonosobo Studi Referensi ke Kota Surabaya dan Kota Malang

TP.  PKK Kab.  Wonosobo beserta TP. PKK Kecamatan Se Kab.  Wonosobo dan perangkat daerah terkait,  melaksanakan studi referensi ke Kota Surabaya dan Kota Malang pada 27 – 30 November 2019. Rombongan diterima oleh Ketua TP.  PKK Kota Surabaya dan Sekretaris PKK Kota Malang. 

Lokasi fokus studi adalah pada Posyandu Emo Demo Kota Surabaya dan Urban Farming Bandung Rejosari Kota Malang.

Emo Demo (emotion-demonstration)  di Kota Surabaya merupakan inovasi dalam pemberian informasi pada kegiatan posyandu dan kegiatan lain yang sesuai dengan tema modul, melalui sesi edukasi yang interaktif dan menyenangkan dengan komunikasi dua arah. Metode yang digunakan adalah permainan yang menggugah emosi para ibu/pengasuh, bersifat inovatif,  imajinatif dan provokatif, dengan memanfaatkan dorongan emosi seperti rasa takut,  jijik,  rasa sayang,  atau rasa nyaman.

Para peserta yang terdiri dari ibu dan pengasuh ini diintervensi untuk memperbaiki perilaku dalam Pemberian Makan Bayi dan Anak (PMBA) agar sesuai tahapan tumbuh kembang anak.

Terdapat 5 pesan kunci terkait perilaku yang ingin ditingkatkan melalui emo demo ini,  antara lain, Konsumsi ATIKA (ati ayam, telur, dan ikan)  untuk ibu hamil sebagai sumber zat besi, Pemberian ASI eksklusif untuk bayi usia 0-6 bulan, Pemberian makanan pendamping ASI (MP-ASI) yang beragam, bergizi dan seimbang, Pemberian cemilan sehat pada anak dan Cuci tangan pakai sabun terutama pada momen penting saat mengasuh anak

Rombongan TP. PKK Kab. Wonosobo berkesempatan memeragakan secara langsung proses emo demo pada kegiatan posyandu.

Urban Farming di Kota Malang merupakan hasil CSR Bank Indonesia Kota Malang. Sinergi perbankan, dan perangkat daerah dalam hal ini Dinas Pertanian dan Bagian Perekonomian dalam pengembangan urban farming di Kota Malang, telah berhasil mendorong swadaya masyarakat di seluruh kelurahan.

Kepala Dinas Pangan, Pertanian dan Perikanan Abdul Munir beserta Kepala Kesbangpol Didiek Wibawanto yang turut serta dalam rombongan tampak sangat antusias dengan materi yang disampaikan.

“Kita coba adopsi pelaksanaan hasil studi referensi ini di Wonosobo. Dengan potensi sumber daya alam yang ada saya yakin akan lebih berdaya dan berhasil guna. Sinergi unsur swasta,  perbankan, dan perangkat daerah serta utamanya para kader PKK di wilayah akan sangat menentukan keberhasilan program, setelah sampai di Wonosobo akan kita koordinasikan dan sosialisasikan lebih lanjut,” tutur Fairuz Eko Purnomo di sela-sela pelaksanaan kegiatan.

#BupatiTilikDesa, Ajak Warga Tingkatkan Kesadaran Pendidikan dan Pikirkan Ekonomi Lokal

Demi mendekatkan dengan warga masyarakatnya,  Bupati Wonosobo bersama jajaranya sapa warga dalam agenda Tilik Desa. “Kedatangan kami dalam tilik desa ini tidak lain hanya untuk mendekatkan kami kepada semua warga masyarakat Wonosobo”.Tilik desa kali ini menyambangi wilayah Kecamatan Garung.

Selain itu, agenda ini dimanfaatkan untuk mengkampanyekan pentingnya pendidikan dan ajakan kepada masyarakat untuk bersama-sama pikirkan ekonomi lokal demi menunjang kesejahteraan warganya.

Bupati mengajak warga masyarakat agar meningkatkan kesadaran akan pentingnya pendidikan. Jangan sampai warga Wonosobo masih ada yang tidak sekolah. Namun jika masih ditemukan, Eko meminta agar diarahkan untuk mengikuti pendidikan kejar paket, dan didorong ke dunia pendidikan entrepreneurship.

“Saya minta tingkatkan kesadaran pentingnya pendidikan, jangan lagi ada warga Wonosobo yang tidak sekolah, namun jika masih ada, Pak Kades bisa mendorong warganya agar diarahkan ke pendidikan kejar paket ataupun ke pendidikan nterpreaunership agar nantinya bisa mengenal dunia usaha, dengan harapan kedepan mampu untuk mengangkat ekonomi masyarakat, serta dengan memanfaatkan media online sebagai sarana promosi potensi ekonomi lokal yang ada”, tegasnya.

Bupati menambahkan, Wonosobo harus segera bebas ODF. Khusus Kecamatan Garung agar segera menggiatkan upayanya dalam bebas ODF 100 persen. Kepada Camat dan Kades diminta terus mendorong warganya agar segara bebas ODF.”Eek ojo sembarangan, nopo malih teng blumbang, di maem iwak, iwak didhahar warga, ya sami mawon kirang sehat niku”. (Buang air jangan sembarangan apalagi di kolam ikan, kotoran dimakan ikan, ikan dimakan warga, sama aja itu tidak sehat).

Bupati juga mengajak semangat gotong royong masyarakat harus terus dipupuk. Jaga lingkungan, buang sampah jangan sembarangan apalagi di saluran air. Perlakukan sampah dengan benar, pilah sampah organik dan anorganik, olah dan manfaatkan.

Senada Bupati, Sekda Wonosobo One Andang Wardoyo menambahkan seraya mengajak warga untuk pikirkan ekonomi, potensi UMKM lokal harus dikembangkan. Baik olahan makanan maupun potensi pertanian. “Bangkitkan ekonomi lokal berbasis Pertanian, bangkitkan potensi lokal madi pikirkan ekonomi untuk meningkatkan kesejahteraan kita”.

Sekda mendorong agar produk lokal bisa jadi ikon, dengan memanfaatkan gudget ataupun media online sebagai sarana promosi. Agar produk-produk lokal bisa di kenal di dunia luar, bahkan mancanegara. “Kita harus bangga dan  tidak ragu memperkenalkan produk lokal kita, bahwa kita juga bisa, kita juga punya, kita juga mampu, ayo kenalkan produk kita ke dunia”.
Selain itu, Sekda menegaskan, tingkat nikah dini di Kabupaten Wonosobo masih relatif tinggi oleh karena itu Andang mendorong agar para kaum muda untuk menghindari nikah dini. “Saya mengajak kepada kaum muda untuk menunda nikah di usia yang belum matang”.

Pada kesempatan tilik desa kali ini juga di berikan berbagai bantuan kepada warga masyarakat. Ada empat desa yang mendapat bantuan, di Desa Gemblengan di berikan bantuan semen 25 sak dan IMB gratis kepada 5 orang warga. Bantuan seng diberikan untuk Desa Lengkong sebanyak 1000 lembar dan Kayugiyang sejumlah 500 lembar, guna membantu warga yang terdampak angin puting beliung beberapa waktu lalu. Sementara untuk Desa Sendang Sari bantuan semen 20 sak dan bantuan UP2K sebesar 20 juta.

Pemkab Wonosobo Gelar Upacara Hari KORPRI, Guru, PGRI, Dan Dharma Wanita Tahun 2019

Sekretaris Daerah Kabupaten Wonosobo One Andang Wardoyo, bertindak sebagai Irup pada upacara Hari Ulang Tahun ke-48 KORPRI, Hari Guru Nasional Tahun 2019, Hari Ulang Tahun ke-74 PGRI, dan Hari Ulang Tahun ke-20 Dharma Wanita Persatuan Upacara KORPRI, PGRI, dan Dharma Wanita tahun 2019 di alun-alun Kota Wonosobo.

Dalam sambutanya Sekda menegaskan KORPRI harus melakukan inovasi-inovasi dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat. Selain itu, para anggota KORPRI juga harus bekerja lebih cerdas, cepat, tepat, serta tidak berbelit-belit. Pelayanan yang ruwet yang menyulitkan masyarakat harus di pangkas. Kecepatan melayani menjadi kunci reformasi birokrasi.

Sesuai yang diamanatkan Presiden, Sekda mengajak seluruh anggota KORPRI untuk mengambil jalan perubahan, melakukan reformasi secara berkelanjutan. Tidak ada lagi pola pikir lama. Tidak ada lagi kerja linear. Dan tidak ada lagi kerja rutinitas. Birokrasi harus berubah. Harus membangun nilai-nilai baru dalam bekerja, cepat beradaptasi dengan perubahan.

Sementara itu, dalam rangka peringatan Hari Guru Nasional dan HUT PGRI yang ke-74. Sekda menyampaikan terimakasih kepada seluruh guru, pendidik, tenaga kependidikan, tenaga administrasi dan utamanya guru honorer, yang selama ini tak kenal lelah mengabdi dengan mengajar sepenuh hati.
Karena menurutnya tanpa dedikasi mereka, proses pembelajaran tidak akan berlangsung dengan baik. “Saya juga minta kepada para guru, pendidik, dan tenaga kependidikan, serta PGRI untuk terus bergerak, memperbarui diri, agar senantiasa adaptif dan responsif terhadap perubahan. Semoga perjuangan saudara sekalian mampu membawa manfaat, dan dapat meningkatkan kualitas pendidikan dan sumber daya manusia di Kabupaten Wonosobo”.

Sekda juga mengucapkan selamat ulang kepada Dharma Wanita Persatuan, sembari berharap semoga di usia yang ke-29 ini seluruh jajaran Dharma Wanita Persatuan Kabupaten Wonosobo dapat meningkatkan peran aktifnya, baik dalam kegiatan pembangunan, pemberdayaan perempuan, maupun dalam membantu memecahkan berbagai permasalahan yang dihadapi masyarakat, dengan mendukung pelaksanaan program pemerintah, melalui pemberdayaan perempuan dalam peningkatan usaha ekonomi keluarga, meningkatkan peran perempuan dalam membawa bangsa ini menjadi bangsa yang lebih cerdas, serta melahirkan sumber daya manusia Indonesia yang mampu bersaing di era globalisasi dan modernisasi.

Sekda menutup sambutanya dengan mengajak semua untuk bersama-sama melaksanakan pengabdian yang terbaik demi kemajuan dan kesejahteraan bangsa Indonesia, khususnya dalam rangka mewujudkan Wonosobo yang Bersatu Untuk Maju, Mandiri dan Sejahtera Untuk Semua.

Pada kesempatan itu, juga dilakukan pemberian penghargaan kepada insan berprestasi dan pemenang Lomba Perpustakaan, baik Perpustakaan Desa/Kelurahan maupun Perpustakaan Sekolah. Sekda berharap, prestasi yang diperoleh saat ini, menjadikan motivasi untuk lebih meningkatkan kembali peran perpustakaan di desa/kelurahan, maupun sekolah.
“Kedepan saya juga berharap, akan banyak perpustakaan desa/kelurahan, maupun sekolah lainnya, baik negeri maupun swasta, yang bisa mengembangkan perpustakaannya dengan baik”, harapnya.

Setelah upacara selesai dilanjutkan Ziarah ke makam pahlawan di TMP Wiropati, yang didahului dengan apel yang dipimpin Staf Ahli Bupati, Eko Soetrisno.

Selain upacara peringatkan kali ini, juga dilaksanakan pencanangan penggunaan LPG Non Subsidi, bagi ASN dan Karyawan BUMD di wilayah Wonosobo. Hal ini cukup menggembirakan, karena dengan menggunakan LPG non subsidi, para ASN, anggota TNI/Polri dan Pegawai BUMN, ikut mensukseskan penggunaan gas LPG yang tepat sasaran.
Sebagaimana diketahui LPG Subsidi 3 kilogram, hanya diperuntukkan untuk keluarga miskin. “Saya minta kepada para ASN, anggota TNI/Polri dan pegawai BUMN, yang masih menggunakan LPG Subsidi, untuk segera beralih ke LPG non-subsidi, agar seluruh rumah tangga miskin tidak mengalami kesulitan mendapatkan LPG bersubsidi”, tegasnya.

Igirmranak Jadi KKB Ke-36

Satu lagi Kampung Keluarga Berencana (KKB) di Kabupaten Wonosobo dikukuhkan resmi pada Rabu (27/11). Adalah Desa Igirmranak, Desa di ketinggian punggung Gunung Prau, Kecamatan Kejajar yang kini resmi menyandang predikat sebagai Kampung Keluarga Berencana ke-36 di Kabupaten Wonosobo, sejak pencanangan pertama di Desa Pulosaren Kecamatan Kepil pada Maret 2016 silam. Kepala Dinas Pengendalian Penduduk Keluarga Berencana Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPPKBPPA), Junaedi menyebut, sebagai KKB, Desa Igirmranak kini mesti mampu merubah mindset alias pola pikir warga masyarakatnya, terutama dalam hal meningkatkan kesejahteraan dan kualitas hidup.

Keberhasilan program KB, disebut Junaedi tidak hanya ditandai dengan banyaknya penggunaan alat kontrasepsi, melainkan lebih penting dari itu adalah terjadinya perubahan cara pandang, mental, pola sikap dan perilaku individu atau masyarakat sampai ke para peserta didik. “Perubahan mindset itu harus dilakukan melalui proses pendidikan, baik melalui program sekolah maupun program luar sekolah atau program lain seperti KKB ini,” terangnya. Semua pihak, tak hanya Dinas PPKBPPA disebut Junaedi memiliki tanggung jawab untuk keberhasilan pembentukan model Kampung KB, termasuk perangkat daerah sesuai dengan tugas pokok dan fungsi masing-masing, didukung segenap mitra kerja terkait dan keterlibatan partisipasi aktif masyarakat.

Dengan adanya sinergi antar seluruh elemen tersebut, Junaedi meyakini sejumlah permasalahan yang menjadi sasaran program KKB, seperti permasalahan kesehatan, pendewasaan usia perkawinan, permasalahan pendidikan, permasalahan lingkungan, infrastruktur hingga permasalahan kependudukan maupun aspek pembangunan lainnya akan lebih cepat ditemukan solusinya. “Demi keberhasilan program Kampung KB di Kabupaten Wonosobo, saya minta kepada Tim Pokjanal Kampung KB yang telah terbentuk di tingkat Desa, termasuk di Igirmranak ini bisa segera menginventarisasi, serta mengidentifikasi segala permasalahan di wilayah kampung KB, sesuai indikator yang telah ditetapkan.

Konsumsi Pangan B2SA Penting Bagi Tumbuh Kembang dan Cegah Stunting

Ketersediaan dan konsumsi pangan yang Beragam, Bergizi, Seimbang dan Aman (B2SA) untuk kesehatan sangat penting dan mendasar bagi tumbuh kembang dan pencegahan stunting. Selain itu juga sebagai pemantapan ketahanan pangan, dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang sehat, cerdas, fisik yang tangguh, serta produktif, sekaligus sebagai upaya untuk melestarikan sumber daya alam, yang sangat diperlukan bagi keberlanjutan pembangunan. Demikian disampaikan Bupati Wonosobo, Eko Purnomo, SE.MM, pada acara pembukaan Lomba Cipta Menu Beragam, Bergizi, Seimbang dan Aman (B2SA). Bertempat di Gedung Sasana Adipura, Kamis (21/11).  

Bupati juga menyampaikan bahwa pem­bangunan pangan harus terus diupayakan untuk mengembangkan sistem pangan yang handal, dimana kegiatan produksi, pengolahan, distribusi dan pemasaran pangan harus sampai di tingkat rumah tangga. Serta untuk mencapai ketersediaan pangan yang cukup bagi masyarakat baik jumlah, mutu maupun keragamannya, sekaligus menekankan pada pentingnya mutu gizi yang cukup dan seimbang.

“Melalui kegiatan lomba ini diharapkan mampu menumbuhkan minat, kreatifitas dan inovasi untuk mengolah potensi bahan baku lokal di Kabupaten Wonosobo menjadi menu pangan lokal yang diolah secara profesional, relatif sehat, aman, komposisi kadar gizinya seimbang, memiliki kemasan dan rasa yang bersaing sehingga mampu menarik konsumen publik, serta memberikan nilai ekonomis bagi masyarakat kita, dan yang terpenting bisa meningkatkan nilai gizi untuk mencegah stunting,” pungkas Eko Purnomo.

Lomba Cipta Menu Beragam, Bergizi, Seimbang dan Aman (B2SA) yang diadakan oleh Dinas Pangan, Pertanian dan Perikanan bekerjasama dengan TP. PKK Kabupaten Wonosobo ini diikuti oleh 30 peserta dari TP. PKK Kecamatan, Istri Forkompinda, DWP, GOW, BUMN/BUMD.

Menurut Kepala Dinas Pangan, Pertanian dan Perikanan Kabupaten Wonosobo, Ir. Abdul Munir, lomba yang diikuti oleh 30 peserta ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman masyarakat akan pentingnya konsumsi pangan B2SA bagi tumbuh kembang dan pencegahan stunting. Mendorong dan meningkatkan kreativitas masyarakat dalam mengembangkan atau menciptakan menu B2SA berbasis sumber daya lokal, dan memperkenalkan aneka produk pangan lokal sehingga bisa menjadi potensi unggulan wilayah.

Pada Lomba B2SA tahun 2019 ini, sebagai juri adalah Pakar Teknologi Pangan ( Wakil Rektor II UNNES ), Dinas Kesehatan Kabupaten Wonosobo, Owner Hotel dan Restauran Surya Asia Wonosobo, Ikatan Koki Wonosobo.

Tampil sebagai juara pada lomba cipta menu B2SA tahun 2019 ini adalah Bhayangkari Polres Wonosobo sebagai juara 1, TP. PKK Kecamatan Kejajar sebagai juara 2, TP PKK Kecamatan Wonosobo sebagai juara 3, PDAM sebagai juara harapan 1, Ikatan Bidan Indonesia Wonosobo sebagai juara harapan 2 dan TP PKK kecamatan Wadaslintang sebagai juara harapan 3.

Siaga Kependudukan Tumbuhkan Kesadaran Siswa Hindari 3 Bahaya

Pemerintah Kabupaten Wonosobo melalui Dinas Pengendalian Penduduk Keluarga Berencana Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPPKBPPA) menggandeng 3 sekolah sebagai rintisan Sekolah Siaga Kependudukan (SSK). Ketiga sekolah tersebut, yaitu SMA Muhamadiyah Wonosobo, SMA Negeri 1 Wonosobo dan SMP Negeri 1 Sukoharjo dinyatakan secara resmi sebagai SSK pada Rabu (20/11), dalam acara pencanangan oleh Wakil Bupati Agus Subagiyo dan sejumlah pejabat terkait, di Gedung Serbaguna SMA Muhammadiyah, Tosarirejo. Wakil Bupati, sebelum menabuh drum bersama Kepala DPPKBPPA Junaedi serta para Kepala Sekolah sebagai tanda resminya SSK mendorong agar seluruh sekolah di Wonosobo dapat menerapkan Siaga kependudukan.

“Saya menghimbau, karena SSK ini sangat positif agar bisa diterapkan di semua sekolah, baik di jenjang menengah atas dan kejuruan maupun SMP dan Sekolah Dasar,” harap Wabup. Dengan menerapkan Siaga kependudukan, nilai positif bagi para pelajar diakui Wabup sangat banyak karena di sekolah mereka akan belajar mengenai tata kelola kependudukan, termasuk di dalamnya menghindari 3 bahaya yang mengancam masa depannya. Ketiga bahaya tersebut, menurut Agus yaitu bahaya seks pranikah, narkoba, dan bahaya penyakit menular seksual. “Jadi sangat penting setiap siswa di sekolah agar menghindari ketiga bahaya ini, karena efek negatifnya sudah jelas, termasuk hancurnya masa depan maupun tungginya angka perceraian di Kabupaten Wonosobo ini,” tuturnya.

Melengkapi arahan Wakil Bupati, Kepala Dinas PPKBPPA, Junaedi juga menyebutkan bahwa disiapkannya ketiga sekolah tersebut sebagai SSK menjadi bagian dari upaya menekan dampak pergaulan bebas antar remaja. Para pelajar sebagai agen perubahan dan motor penggerak pembangunan bangsa di masa depan dinilai Junaedi layak untuk diperkuat kesadarannya terhadap kependudukan. “Maka simbol Generasi Berencana (Genre) para pelajar ini adalah mengangkat ketiga jari, sementara jari telunjuk dan ibu jari membentuk angka nol,” terangnya. Maksud dari simbol tersebut, menurut Junaedi adalah agar mereka dapat menghindari ketiga bahaya sehingga tidak terdampak efek negatifnya, alias nol angka pernikahan dini, nol pengguna narkoba, dan nol terkena PMS.

Bayar Pajak Lebih Awal, Dapat Hadiah

Bagi wajib pajak yang membayarkan kwajiban pajaknya lebih awal, diberikan hadiah dan penghargaan. Badan Pengelolaan Pendapatan, Aset Daerah (BPPKAD) Kabupaten Wonosobo, memberikan penghargaan itu kepada wajib pajak, Desa/ Kelurahan/ Kecamatan yang lunas pembayaran PBB-P2 nya sebelum jatuh tempo dengan total sejumlah 340 orang, Kamis, 14 Nopember 2019, pukul 09.00 WIB, bertempat di Gedung Korpri Kabupaten Wonosobo.

Dikatakan Kepala BPPKAD Kristijadi, semua Desa/ Kelurahan yang lunas PBB P2 memperoleh penghargaan berupa Piagam dan Uang Penghargaan sesuai perhitungan dan rumus yang telah ditetapkan dengan SK Bupati Wonosobo.

Sesuai peraturan yang ada, uang penghargaan telah di transfer ke rekening masing-masing Kasi Pemerintahan di Kecamatan (Kades/ Lurah terkait untuk berkoordinasi lebih lanjut dengan Kasi Pemerintahan).

Menurut penjelasanya, maksud dan tujuan dilaksanakannya kegiatan ini adalah untuk memberikan penghargaan kepada Desa/ Kelurahan/ Kecamatan yang lunas pembayaran PBB-P2 nya, juga memotivasi Wajib Pajak untuk lunas awal PBB-P2 nya, dan pemanfaatan bersama data dan informasi dalam pengelolaan keuangan daerah yang lebih baik, serta penguatan koordinasi penyelenggaraan pelaksanaan kebijakan pengelolaan keuangan publik dalam pelaksanaan hubungan keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah.

Sementara Hadiah tambahan dari Sponsor PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah Cabang Wonosobo diberikan kepada yang berhak dengan beberapa kriteria. Penghargaan untuk Desa/ Kelurahan lunas awal 100% berupa Televisi dengan ukuran 32” dengan Kriteria A, B, C dan D

Kriteria A (Ketetapan Pokok Rp 0,- s/d Rp. 50.000.000,-) diberikan untuk 3 Desa
Kriteria B (Ketetapan Pokok Rp 50.000.000,- s/d Rp. 100.000.000,-) diberikan untuk 3 Desa
Kriteria C (Ketetapan Pokok lebih dari Rp 100.000.000,-) diberikan untuk 3 Desa
Kriteria D (untuk Kelurahan yang lunas 100%) diberikan untuk 3 Kelurahan.

Penghargaan untuk Desa/ Kelurahan lunas paling awal 100% berupa Televisi dengan ukuran 24” untuk 18 Desa/ Kelurahan. Penghargaan untuk Desa/ Kelurahan lunas 100% pada bulan April 2019 berupa Televisi dengan ukuran 19” untuk 12 Desa/ Kelurahan. Penghargaan untuk Kecamatan lunas 100% berupa Laptop untuk 6 Kecamatan. Piala untuk 3 (tiga) Kecamatan lunas 100% tercepat sebelum jatuh tempo. Wajib Pajak pembayar PBB P2 tercepat dan terpilih berupa Penanak Nasi Serbaguna dan Dispenser untuk 20 orang.

Pada kesempatan itu, Bupati Wonosobo Eko Purnomo, menegaskan bahwa pengelolaan PBB-P2, sejak tahun 2013, kewenangan pengelolaannya telah diserahkan ke daerah. Oleh karena itu, Ia meminta agar daerah harus berinovasi dan kreatif dalam menggali potensi yang ada, melalui cara intensifikasi, penilaian individu, dan pemutakhiran data secara massal menyesuaikan NJOP.

Karena menurutnya PBB selama ini telah banyak mendukung kelancaran pembangunan daerah, salah satunya sebagai sumber pendapatan Negara, dan dapat mengatur pertumbuhan ekonomi. Di Wonosobo sendiri, pemerintah telah memberikan kemudahan bagi masyarakat, untuk membayar PBB-P2 dengan menggunakan system online host to host, dan dapat dibayar secara langsung melalui berbagai chanel pelayanan yang disediakan oleh BPD Jateng.

Baznas Tasyarufkan Untuk Modal Ekonomi Produktif

Pengumpulan dana Zakat yang dikelola Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kabupaten Wonosobo ditasyarufkan kepada pengusaha kecil, sebagai tambahan modal ekonomi produktif. Secara simbolis diserahkan Sekda Wonosobo, One Andang Wardoyo, kepada warga atau pedagang dan usaha kecil se-Kabupaten Wonosobo yang diundang di Pendopo Bupati, rabu (13/11) pagi.

Menurut Ketua Baznas Kabupaten Wonosobo, Supomo Ibnu Syahid, sebanyak 196 orang yang diundang untuk menerima bantuan pentasyarufan Baznas kali ini, dengan masing-masing diterimakan lima ratus ribu rupiah per-orang. Bantuan ini digelontorkan untuk tambahan modal usaha bagi para pedagang atau pengusaha kecil. Dengan harapan bisa membantu dan agar digunakan dengan sebaiknya.”Kita tasyarufkan untuk pedagang atau pengusaha kecil, walaupun nilainya kecil bisa sebagai tambahan modal usaha mereka, dengan harapan bisa digunakan dengan sebaik mungkin. Harapan kami, saat ini mereka yang menerima, kedepan semoga berganti menjadi mereka yang memberi”, katanya.

Dalam sambutanya Sekda menyampaikan terimakasih kepada para Muzaqi yang telah membayarkan zakatnya melalui Baznas. Apresiasi positif diberikan kepada Baznas dengan terselenggaranya acara tersebut, sehingga pengelolaan dana zakat yang terkumpul benar-benar bisa tersalurkan kepada mereka yang membutuhkan. Ia mengajak khususnya kepada Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan Pemkab Wonosobo yang belum melaksanakan, agar bisa menyalurkan kwajiban zakatnya melalui Baznaz, yang nantinya bisa disalurkan kepada Mustahiq yang tepat. “Kepada para ASN yang belum melaksanakan, akan kami dorong untuk bisa melakukan kewajiban zakatnya melalui Basnaz”, katanya.

Selain itu Andang berharap dan berdoa semoga bantuan modal usaha yang boleh dikatakan kecil ini nantinya bisa menjadi besar, dengan arti bisa dimanfaatkan sebaik mungkin dan se efisien mungkin. “Kami berharap dan berdoa semoga yang kecil ini nantinya akan menjadikan besar untuk usaha anda semua,” harapnya.

Atas nama Bupati Andang mengucapkan terimakasih kepada para pelaku ekonomi produktif yang selama ini sudah dengan gigih dan giat menjalani usahanya dengan cara mandiri. “Pak Bupati mengucapkan terimakasih kepada para pelaku ekonomi produktif yang selama ini sudah dengan gigih dan giat menjalani usahanya secara mandiri, mohon maaf karena Pemerintah belum bisa banyak memberikan sentuhan yang maksimal”, tegasnya.

Selain itu Sekda berpesan agar Desa berpartisipasi untuk mengangkat Ekonomi desanya. Dengan melihat potensi-potensi pengusaha kecil yang ada di wilayahnya agar bisa menjadi perhatian dalam pembangunan Ekonomi desa. Yaitu dengan memanfaatkan dana Desa, sebagai pinjaman modal dan sebagainya. “Kenapa tidak, dana desa diberikan krpada pengusaha kecil sebagai pinjaman tanpa bunga, yang penting jujur, nanti hasilnya untuk bersama”, katanya.

Kepada para penerima bantuan, Sekda berpesan agar mereka mengikuti perkembangan jaman, dengan manfaatkan teknologi saat ini, misal dengan menggunakan hand phone mereka, bisa digunakan untuk melakukan transaksi atau penawaran melalui media online sehingga promosi dan informasi bisa dengan cepat dan luas cakupanya.”Panjenengan semua harus jeli untuk mengikuti perkembangan jaman, manfaatkan hp untuk transaksi penawaran produk atau usaha melaui media online atau dengan medsos anda”, ajaknya.

Kafilah Wonosobo Kembali Kirimkan Kontingen MAPSI Tingkat Provinsi Jateng

Kabupaten Wonosobo kembali berpartisipasi di ajang kompetisi tingkat Provinsi Jawa Tengah. Bertempat di Pendopo Bupati, Selasa (12/11) siang Asisten Sekda Bidang Pembangunan, Sumaedi SH.MSi., melepas Kafilah Wonosobo yang terdiri dari 36 siswa dan 26 Guru Pendamping, untuk mengikuti lomba Mata Pelajaran Pendidikan Islam dan Seni Islami (Mapsi) jenjang Sekolah Dasar (SD) tingkat Provinsi Jawa Tengah ke XXII yang digelar di Asrama Haji Donohudan Kabupaten Boyolali.

Sebanyak 36 siswa/siswi ini, merupakan hasil seleksi tingkat Kabupaten yang telah dilaksanakan pada tanggal 12 Oktober lalu yang dipusatkan di Kecamatan Wonosobo. Dan kesemuanya adalah yang terbaik. Mereka terpilih dan akan dikirim sebagai kontingen untuk berlomba menghadapi Kabupaten lain se-Jateng. Sementara itu waktu kompetisi sesuai jadwal akan digelar pada jumat-sabtu (15-16/11) mendatang.

Disana para siswa akan mengikuti berbagai cabang lomba, yang meliputi lomba Mata Pelajaran PAI PTQ dan Sholat, Adzan dan Iqomah, Cerdas Cermat Terpadu PAI dan Umum (paisum), Karya Tulis Islami, Keterampilan Teknologi Informasi dan komunikasi Islam, Seni ‘fihdil Qur’an, Seni Tilawatil Qur’an,  Seni Khot Quran, Seni Kaligrafi Al Qur’an, Cipta Teks Khithobah, Seni Khitobah, Seni Irama Musik, Vokal Rebana dan Cipta Teks Verita Islami serta Seni Bercerita Islami.

Dalam sambutanya Sumaedi mengatakan anak merupakan kader penerus Bangsa, Negara yang akan datang ada di tangan mereka, oleh karena itu generasi penerus tidak hanya pintar dalam menguasai ilmu dan sains saja namun harus memiliki akhlak dan mental yang mulia. Revolusi mental menurutnya harus dikreasi dan dibentuk dari berbagai unsur. Salah satunya Pendidikan karakter dengan mengikuti ajang lomba Mapsi ini. 
Selain itu dengan Lomba Mapsi ini akan menjadikan peserta didik SD memiliki kecerdasan ketrampilan dalam menghadapi peresaingan global dan tidak melupakan jati dirinya sebagai bangsa Indonesia serta mampu menerapkan ajaran agama yang benar.

“Mapsi merupakan perpaduan sains religi dan seni, sehingga selain pintar ilmu tapi juga punya jiwa Islami dan seni, sehingga nantinya akan membentuk jiwa anak yang berhati mulia”, katanya.

Sumaedi berpesan kepada para peserta agar menjadi kompetitor yang baik, jaga sopan santun, jaga nama baik, karena dipundak mereka membawa nama Wonosobo, tetap tenang, hilangkan keraguan, tidak ada yang ditakuktkan, serta memaksimalkan kemampuan dalam berlomba nanti.