Author: Ambar

BPS Terapkan Inovasi Baru Dalam Pelaksanaan SP 2020

Wonosobo. Sensus Penduduk 2020 (SP 2020) merupakan penyelenggarakan kegiatan pencacahan lengkap seluruh penduduk Indonesia yang ke 7 sejak tahun 1961. Tantangan terbesar dalam pelaksanaan SP di masa milenial ini adalah mobilitas penduduk dan perubahan perilaku masyarakat yang menyebabkan sulitnya melakukan pencacahan penduduk secara langsung.

Oleh karena itu Badan Pusat Statistik (BPS) melakukan inovasi dan pembaharuan metode pada pelaksanaan SP 2020 dibanding tahun sebelumnya dengan memanfaatkan data administrasi penduduk (adminduk) sebagai data dasar untuk pencatatan penduduk secara lengkap. Selain itu akan memanfaatkan berbagai catatan pengumpulan data yang menggunakan teknologi terkini. Demikian dikatakan Kepala BPS Kabupaten Wonosobo Drs Wazirrudin pada acara Rakor Sensus Penduduk 2020 Kabupaten Wonosobo di Ruang Mangoenkoesoemo Setda, Kamis (13/2).

Bupati Wonosobo Eko Purnomo S.E., M.M., secara resmi membuka rakor tersebut. Dalam sambutanya menegaskan, secara global sensus penduduk bertujuan untuk menyediakan data jumlah, komposisi, persebaran, dan karakteristik penduduk Indonesia, sebagai dasar dalam menetapkan perencanaan dan kebijakan pemerintah.

Senada dengan Kepala BPS Kabupaten Wonosobo, Eko mengatakan, SP2020 kali ini akan menggunakan metode kombinasi, yaitu memanfaatkan data administrasi kependudukan (adminduk), dari Direktorat Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil), Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia, sebagai data dasar untuk pendataan penduduk secara lengkap, serta memanfaatkan berbagai jenis pengumpulan data yang menggunakan gadget. Inovasi ini dilakukan, untuk menghadapi tantangan dinamika kependudukan yang terjadi selama 10 tahun terakhir.
Sensus Penduduk Tahun 2020 akan dilaksanakan dalam dua periode. Periode pertama adalah Sensus Penduduk Online, yaitu seluruh Penduduk Indonesia, dapat secara aktif mengisikan data kependudukannya secara mandiri, melalui halaman website sensus.bps.go.id, pada 15 Februari sampai dengan 31 Maret 2020.

Periode kedua yaitu kegiatan verifikasi dan pencacahan lapangan, yang akan dilaksanakan pada tanggal 1 s.d. 31 Juli 2020. Sebelum dilakukan pencacahan lapangan akan dilakukan verifikasi lapangan.Selanjutnya, pada kegiatan verifikasi lapangan, petugas sensus akan melakukan pengecekan keberadaan penduduk berdasarkan daftar penduduk, pengecekan ke lapangan, dan penyisiran bersama ketua/pengurus lingkungan setempat. Sementara pada tahap pencacahan, petugas sensus mendata penduduk yang belum melakukan Sensus Penduduk Online.


Bupati berharap kepada seluruh masyarakat, dapat berperan dalam mengikuti Sensus Penduduk Online, serta dapat membantu menyebarkan dan mengajak masyarakat lainya, untuk aktif mengisi Sensus Penduduk Online ini. Serta andilnya dalam melancarkan proses verifikasi dan pencacahan lapangan. Sementara itu rakor dihadiri oleh semua unsur forkopimda, OPD Pemerintah, dan masyarakat.


Deklarasi Menuju Bebas ODF Dan Pencanangan Germas Dele Diamond

Tiga Desa dan sepuluh dusun se-Kecamatan Kepil deklarasikan bebas Open Defecation Free (ODF). Momen itu juga di barengi dengan pencangaan germas hidup sehat “Dele Diamond”.

Deklarasi menuju bebas ODF ini secara umum merupakan upaya yang sedang digalakan Pemerintah Kabupaten Wonosobo. Tidak terkecuali di Kecamatan Kepil, karena secara garis besar wilayah ini dinilai miskin dalam kategori ketersediaan jamban sehat.

Hal itu terlihat di tahun 2018 lalu Kecamatan Kepil hanya berada di angka 16% rumah yang memiliki jamban ber-septict tank. Artinya lebih dari separuh total rumah yang ada, belum memiliki standarisasi jamban sehat.

Namun dengan upaya yang keras, serta jalin bekerjasama dan berkoordinasi bersama berbagai elemen, serta adanya bantuan Pemerintah dan swasta, CSR, perubahan luar biasa terlihat setahun berikutnya, di 2019 kepemilikan jamban bersepyict tank meningkat menjadi 53,7 %, dan hari ini dipusatkan di balai desa mojosari dilakukan deklarasi bebas ODF di beberapa dusun dan desa, untuk menuju 2020 bebas buang air sembarangan.

Sementara itu, Germas sendiri merupakan suatu tindakan sistematis dan terencana yang dilakukan bersam-sama oleh semua komponen bangsa dengan kesadaran, kemauan dan kemampuan berperilaku sehat untuk meningkatkan kualitas hidup. Simbol ajakan dalam upaya mendorong dan memupuk semangat masyarakat Kepil agar meninggalkan kebiasaan kurang baik, untuk berani merubah menuju ke pola hidup yang sehat, salah satunya dengan tidak buang air sembarangan.

Simbol itu di kemas dalam Germas Diamond. Germas dijabarkan menjadi Gerakan masyarakat hidup sehat. Diamond diartikan dengan, Didik anak dan cegah tunda pernikahan anak. Intensifkan dalam penanganan stunting serta peningkatan cakupan dan mutu imunisasi. Awas bahaya asap rokok dan TossTBC (Temukan Obat Sampai Sembuh TBC). Mengkonsumsi buah dan sayur tiap hari, Olahraga minimal 30 menit tiap hari dan cek kesehatan secara rutin. No smoking area untuk mewujudkan lingkungan sehat, serta diberikan asi eksklusif kepada bayi umur 0 sampai 6 bulan.

Gerakan Nasional Pemulihan Daerah Aliran Sungai

Gerakan Nasional Pemulihan Daerah Aliran Sungai (GNPDAS) 2019 merupakan gerakan yang diinisiasi oleh Kementerian LHK dan masyarakat untuk meningkatkan kesadaran bersama dalam memulihkan hutan dan lahan, dengan tujuan penyelamatan sumberdaya air, peningkatan produktivitas lahan, perubahan iklim dan pencegahan bencana hidrometeorologi. Demikian disampaikan Kepala BPDASHL Serayu Opak Progo, Ir. Sri Handayaningsih, M.Sc, pada acara peringatan Gerakan Nasional Pemulihan Daerah Aliran Sungai (GNPDAS) tahun 2019 Kabupaten Wonosobo. Bertempat di lapangan Bumi Perkemahan Cinde Mas, Cangkring Wadaslintang, Selasa (17/12).

Pada acara yang mengambil tema Pulihkan Lahan, Membangun Masa Depan Ini, Sri Handayaningsih juga menyampaikan bahwa saat ini Indonesia mempunyai lahan kritis 14 juta hektar yang tersebar di 17 ribu DAS  se Indonesia, termasuk di kawasan Dieng dan sekitarnya.

Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa Kabupaten Wonosobo berada di hulu DAS Serayu dan menjadi sumber kehidupan bagi kabupaten Wonosobo sendiri dan daerah dibawahnya. “DAS Serayu sendiri menjadi salah satu dari 15 DAS penting Nasional yang harus dipulihkan, sehingga menjadi sangat penting untuk menjaga lahan yang sudah baik dan memulihkan lahan kritis di Wonosobo untuk mendukung kehidupan,” terang Sri Handayaningsih.

Sri juga menyampaikan bahwa penanganan lahan kritis di tingkat tapak tidaklah sederhana, bahkan sering menghadapi permasalahan sosial yang cukup komplek. Karena itu perlu dilakukan penanganan bersama lintas sektor dan pendekatan bentang lahan terpadu. Semangat pemulihan DAS berupa rehabilitasi hutan dan lahan semakin digaungkan melalui GNPDAS. “ini merupakan sebuah gerakan bersama lintas sektor dengan mengedepankan prinsip keterpaduan dalam penanganan lahan kritis dan pemulihan DAS secara lebih luas serta melibatkan partisipasi masyarakat,” pungkas Sri Handayaningsih.

Pada acara yang dibuka oleh Wakil Bupati Wonosobo, Ir. Agus Subagiyo, M.Si, Kementerian LHK melalui BPDAS Serayu Opak Progo yang berkomitmen dan siap mendukung pemulihan lahan di Kabupaten Wonosobo membagikan 10.000 bibit sengon dan 8.300 bibit produktif berupa tanaman buah buahan untuk kelompok masyarakat di Wonosobo. Selain itu BPDAS Serayu Opak Progo juga mengalokasikan 10.000 bibit macadamia untuk rehabilitasi kawasan Dieng di Kabupaten Wonosobo, yang rencananya akan didistribusikan pada bulan Januari 2020. Dimana Macadamia merupakan tanaman yang memiliki nilai ekonomi tinggi sekaligus juga sebagai tanaman konservasi lahan. Rehabilitasi dengan tanaman Macadamia diharapkan menjadi titik temu persoalan tenure, degradasi lahan, dan kebutuhan ekonomi rumah tangga.

Agus Subagiyo pada kesempatan itu menyampaikan ucapan terima kasih kepada Kementerian LHK dan BPDAS Serayu Opak Progo serta semua pihak yang peduli dan ikut melestarikan lingkungan dan pemulihan lahan kritis di Wonosobo.

“Sementara untuk Wadaslintang sendiri merupakan lingkungan yang merupakan sabuk hijau, dimana disitu terdapat Waduk Wadaslintang yang harus terus dijaga kelestariaanya. Penghijauan di sekeliling waduk harus terus dilakukan agar waduk terus terjaga dari pendangkalan, akibat terkikisnya lahan di sekeliling waduk,” pungkas Agus Subagiyo.

Pertama di Jateng, BLK Digital Kreatif Di Launching

Atas nama Pemerintah Kabupaten Wonosobo, Bupati, Eko Purnomo, melaunching Balai Latihan Kerja (BLK) Digital Kreatif di Aula BLK Wonosobo, Selasa (17/12/2019). Balai ini di di buat untuk mempersiapkan sumber daya manusia (SDM) dalam rangka menghadapi revolusi industri 4.0. BLK Digital Kreatif ini merupakan yang pertama kali yang ada di Jateng.

Bupati Wonosobo Eko Purnomo dalam sambutannya mengatakan, memasuki era industri 4.0, dimana karya digital kreatif mempunyai peran yang strategis dalam mengakselerasi pertumbuhan ekonomi wilayah. Oleh karena itu, Pemerintah Kabupaten Wonosobo melalui Balai Latihan Kerja, terus berpacu melakukan inovasi melalui langkah-langkah konkrit, untuk perluasan lapangan kerja serta pertumbuhan ekonomi kreatif yang ada di Wonosobo.

“Melalui BLK Digital Kreatif ini, kami mendorong para generasi muda Wonosobo untuk memiliki daya saing dan daya kompetitif, serta skill yang mumpuni di Bidang Industri Kreatif,” ungkapnya.

Bupati juga meminta BLK harus terus berkembang, bergerak lebih dinamis dan menjawab tantangan kebutuhan SDM. BLK, lanjutnya, harus mampu menyiapkan SDM sesuai dengan potensi lokal yang sekaligus merupakan sektor prioritas nasional. Kedepan, diharapkan pelatihan yang dilakukan perlu juga diarahkan kepada penciptaan wirausaha baru.

“Saat ini Pemkab Wonosobo juga memberikan perhatian khusus terhadap pertumbuhan Industri kreatif. Kami menargetkan adanya pertumbuhan komunitas Industri kreatif, diantaranya melalui peningkatan jumlah komunitas kreatif yang dapat difasilitasi dalam ruang atau sarana kreatif, peningkatan jumlah orang kreatif yang menjadi wirausaha, peningkatan jumlah produk kreatif yang terfasilitasi dalam pameran atau pemasaran, dan peningkatan jumlah produk kreatif yang terfasilitasi dalam Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI),” bebernya.

Eko Purnomo berharap, BLK Digital Kreatif ini, akan menambah amunisi baru bagi para pelaku industri kreatif di Wonosobo. Tidak lama lagi ia meyakini, bahwa karya digital kreatif dari masyarakat Wonosobo, akan mampu bersaing dengan karya-karya dari daerah lain, baik dalam skala nasional maupun internasional.

“Kita ingin mempersiapkan SDM Wonosobo, karena sekarang ini kita hidup era digital yang memiliki banyak sekali peluang untuk bisa kita dapatkan,” kata Kepala UPTD BLK Wonosobo, Firman Cahyadi saat ditemui seusai acara.

Menurutnya, BLK Digital Kreatif ini meliputi dua hal, yang pertama adalah dalam bisnis proses akan menuju pada digitalisasi. Yaitu dalam proses pendaftaran, seleksi dan pengelolaan BLK mulai akan mengarah pada digitalisasi. Kemudian yang kedua pada program-program pelatihan BLK juga akan mengarah pada digitalisasi.

“Ini untuk menjawab tantangan revolusi industri 4.0 dan menyiapkan anak-anak Wonosobo untuk menguasai teknologi di era digital ini. Salah satunya adalah kita membuka kejuruan-kejuruan digital di BLK ini, salah satunya adalah desain grafis, fotografi, pemrograman web, digital marketing dan sejenisnya. Ini akan menjadi fokus program kita kedepannya,” ungkapnya.

Lebih lanjut dikatakannya, kedepan pihaknya berkeinginan agar pelatihan di BLK tidak hanya fokus pada output saja tetapi diharapkan bisa membawa manfaat kepada masyarakat luas. Seperti pihaknya akan membuat BLK sebagai ekosistem wirausaha.

“Artinya orang datang dan mengikuti pelatihan disini bukan hanya mendapatkan teknisnya saja tetapi juga mendapat iklim wirausahanya dengan misalnya mengikuti pelatihan  barista. Selain mengikuti pelatihan barista, juga bisa belajar berwirausaha di kafe yang ada di BLK,” pungkasnya.

Peserta MTQ Diminta Semangat Dan Optimis

Kafilah Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Umum  Kabupaten Wonosobo diminta Yakin dan mantab dengan semangat serta optimisme yang tinggi menghadapi kompetisi Tingkat Provinsi Jawa Tengah. Demikian ditegaskan Staf Ahli Bupati, Eko Sutrisno Wibowo.

Hal tersebut di tegaskanya di Pendopo Bupati, Rabu (11/12), saat para peserta berpamitan untuk berangkat mengikuti lomba MTQ Umum ke XXVIII Tingkat Provinsi Jateng di Donohudan Boyolali, yang rencananya dilaksanakan selama tiga hari, dimulai hari ini 16-19 Desember 2019. Kafilah tersebut sebagai wakil Kabupaten Wonosobo yang akan berebut dengan 35 Kabupaten/Kota lain se-Jawa Tengah.

Eko Sutrisno juga mengatakan sebuah perlombaan merupakan sebuah pertarungan untuk menuju pada pengakuan yang terbaik diantara yang terbaik. “Prinsip, sebuah perlombaan adalah pertarungan baik atas nama pribadi ataupun lembaga untuk menuju pada pengakuan menjadi yang terbaik diantara yang terbaik, namun bukan hal itu yang paling penting tapi dengan modal pengayaan dan pengalaman agama yang kuat yang anda miliki akan memberi nilai lebih dibanding yang lain, dan ilmu tersebut agar bisa diterapkan di kehidupan sehari hari. Serta menjadi kebanggaan tersendiri karena anda disini adalah pilihan dan yang terbaik untuk mewakili Kabupaten Wonosobo di Kancah Provinsi Jateng,” jelas Eko Sutrisno.

“Anda disini adalah pilihan, dan yang terbaik, jadi saya minta anda semua tetap semangat, yakin, jangan minder dan optimis saja untuk Wonosobo untuk berkompetisi dengan Kabupaten/Kota lain yang ada di Jawa Tengah,” tambah Eko Sutrisno.

“ Harapanya dengan semangat yang tinggi Kafilah Kabupaten Wonosobo mampu meraih hasil yang maksimal, selain bawa nama baik pribadi bawa nama Wonosobo juga,” pungkas Eko Sutrisno.  

Sementara menurut, Imron Awaludin, dari Kantor Kementrian Agama Kabupaten Wonosobo,  peserta yang berangkat ke Donohudan Boyolali tersebut merupakan kelompok umum, yang diikuti oleh 20 orang peserta.

“Cabang MTQ Umum yang diikuti Kafilah Kabupaten Wonosobo adalah Tilawah yang meliputi tilawah dewasa putra, tilawah remaja putra putri, tilawah anak-anak putra putri. Hifdzil Qur’an yang meliputi  1 juz dan tilawah putra dan putri, 5 juz dan tilawah putra dan putri, 10 juz putra dan putri, 20 juz putra dan putri, 30 juz putri. Syarhil Qur’an beregu. Fahmil Qur’an beregu,” pungkas Imron.

Sekda Wonosobo, One Andang Wardoyo minta kepada semua instansi baik di lingkup Pemkab ataupun institusi lainya, agar melakukan koordinasi dan kerjasama sesuai poksi masing-masing dalam kesiapan menghadapi persiapan Natal 2019 dan Tahun Baru 2020. Hal ini disampaikanya saat membuka Rakor Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) di Ruang Mangoenkoesoemo Setda rabu (11/12). Secara tegas Sekda perintahkan semua SKPD terkait, untuk segera melakukan koordinasi untuk menyusun tugas dan kesiapanya.

Kepada Dinas Perkimhub agar segera berkoordinasi bersama Lantas Polres Wonosobo, untuk mengatur tentang managemen lalulintas di Kota, dengan action penataan parkir yang baik. Sehingga Wonosobo yang sudah menjadi kota tujuan wisata ini tidak semrawut. Namun juga harus di dukung oleh Dinas Perindag untuk memberi pembinaan kepada para PKL sehingga tidak menggunakan bahu jalan untuk jualan, termasuk mobil yang digunakan untuk jualan dan yang parkir dijalan.”Termasuk mobil yang digunakan untuk jualan dan parkir dijalan itu. Karena, nanti kalau semua orang menggunakan mobil untuk berjualan dijalan, maka sepanjang jalan pasti akan digunakan untuk julan semua”, kata Sekda.

Kepada Dinas PU dan Tata Ruang, agar memperhatikan tentang akses jalan ke obyek wisata, untuk segera dilakukan pemeliharaan yang baik sehingga para wisatawan yang datang berkunjung bisa berjalan lancar dan merasa nyaman. Karena menurutnya sekarang sudah tumbuh banyak berbagai tempat wisata baru di wilayah di Kabupaten Wonosobo, yang menjadikan daya tarik tersendiri bagi wisatawan untuk datang ke Wonosobo, sehingga akses menuju kesana harus benar-benar diperhatikan. 

Kepada Dinas Pariwisata untuk selalu memberikan yang terbaik sehingga citra wisata Wonosobo tetap baik. Termasuk para Camat agar berkoordinasi dengan Kades dan pokdarwis setempat dalam menyajikan atraksi atau sarana obyek wisata agar dipastikan yang aman. “Jangan sampai atraksi yang disajikan membahayakan bagi wisatawan, misal jembatan dari bambu, buatlah yang baik dan kuat, tempat selfie yang mengharuskan orang untuk nsik, pastikan yang aman, sehingga tidak ada wisatawan yang sedang menikmati selfie malah jatuh, jangan sampai”, tegasnya.

Kepada Dinas Kesehatan dan Dinas Pangan Pertanian dan Perikanan, serta instansi terkait lainya yang menangani, didorong untuk fokus tentang keamanan dan kesehatan pangan. Selain itu ketersediaan kebutuhan pokok masyarakat, termasuk LPG dan lainya juga harus dipastikan tersedia di jelang Natal dan akhir tahun ini. Selain itu agar dilakukan pemantauan kestabilan harga kepokmas dipasar. Baik tradisional maupun modern. 
Sementara Kapolres Wonosobo AKBP Abdul Waras S.I.K, mengajak semua stakeholders untuk bersama-sama dalam menciptakan situasi Wonosobo yang aman dan kondusif. Terkait hal ini, Polres telah mempersiapkan operasi lilin candi yang akan digelar menjelang Natal dan tahun baru hingga awal Januari mendatang. Sasaran kegiatan tersebut meliputi orang, tempat kegiatan dan benda.

Untuk itu, demi Wonosobo Kapolres mengajak semua untuk berkomitmen bersama dalam berikan jaminan keamanan umat yang menjalani perayaan Natal dan kegiatan libur akhir tahun ini. Selain itu keamanan obyek wisata juga menjadi fokus perhatiannya.

“Wonosobo harus guyup, bekerja bersama dan bekomitmen, dalam rangka memberikan kenyamanan bagi masyarakat. Dan saat ini terutama kepada mereka umat yang merayakan natal dan masyarakat yang melakukan kegiatan libur akhir tahun, selain itu keamanan obyek wisata juga harus jadi perhatian”, katanya.

Selain itu, Kepolisian bekerjasama dengan TNI, Satpol PP dan aparat yang lain telah melakukan berbagai program, salah satunya dengan melaksanakan Patroli gabungan dengan menyasar wilayah Wonosobo dan tempat yang dianggap rawan, serta menyambangi tempat ibadah gereja. 
Potensi radikalisme dan terorisme juga menjadi perhatian. Untuk itu Kapolres perintahkan kepada jajaranya dan instansi terkait lainya agar bersama-sama lakukan pengawasan secara maksimal. Jika nanti terjadi hal-hal yang diluar batas, anggota tidak boleh segan lakukan tindakan kepolisian, namun sesuai prosedur, bahkan jika sangat membahayakan keselamatan nyawa boleh dilumpuhkan.


Menuju Generasi Prima, Sekolah Didorong Untuk Menyediakan Kantin Sehat

Generasi yang sehat akan membawa masa depan yang sehat pula. Hal itu bisa diwujudkan dengan menanamkan pola dan perilaku hidup sehat pada diri sendiri maupun lingkungan sekitar. Di mulai dari lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat.

Terkait hal itu Pemerintah Kabupaten Wonosobo melalui instansi terkait bersama-sama berkomitmen dan berupaya untuk menuju generasi masa depan yang sehat, dengan melalui berbagai program, salah satunya Kantin Sekolah Sehat. Program ini mendorong pihak sekolah untuk menyediakan kantin sekolah yang sehat. 

Bertempat di Ruang Mangoenkoesoema Setda, Selasa (10/12), Bagian Kesra menggelar sosialisasi Kantin Sekolah Sehat kepada guru se-Kabupaten Wonosobo. Dengan mengadirkan dua nara sumber, dari Dinas Kesehatan dan Dinas Pertanian dan Perikanan.

Melalui kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan para guru mengenai higiene sanitasi, menumbuhkan kepedulian warga sekolah terhadap kualitas jajanan yang dijual di kantin sekolah, dan mengubah perilaku pedagang jajanan sekolah agar terbiasa menerapkan prinsip higiene sanitasi. Untuk mewujudkan kantin sekolah yang sehat
Sosialisasi dibuka oleh Kabag Kesra Setda Isnanto, mewakili Bupati. Ia meminta kepada komite sekolah dan orangtua, serta pihak sekolah sebaiknya merencanakan pengadaan kantin sekolah yang sehat, yang dikelola dengan cara bersih, menyediakan makanan-makanan sehat yang tidak menggunakan penyedap, pengawet dan pewarna yang membahayakan anak.

“Barangkali, untuk merealisasikan kantin sekolah yang sehat seperti ini memang berat dan banyak tantangannya, apalagi kalau oritentasinya hanya untuk mengejar keuntungan yang besar, namun dengan komitmen kuat dan aksi bersama secara nyata pasti akan terwujud”, tegas Isnanto.
Program ini diharapkan mampu memberikan edukasi kepada para pengelola kantin sekolah agar memperhatikan pemenuhan nutrisi melalui penyediaan jajanan yang lebih sehat sesuai dengan pedoman gizi seimbang.

Sementara itu, salah satu nara sumber, Istikomah dari Dinas Pangan Perikanan dan Pertanian Kabupaten Wonosbo, menyampaikan secara umum, kantin yang memenuhi syarat tersebut dapat dilihat dari beberapa hal, di antaranya dengan penyajian jajanan pangan yang aman, tanpa mengandung bahan sintetis dan tanpa tambahan bahan pangan yang terlarang dan membahayakan, penerapan sistem higienisasi yang baik, perilaku pedagang dan perawatannya, pemisahan pangan mentah dan pangan matang, serta pengetahuan mengenai pembuatan produk dan praktek pengolahannya.

Ada beberapa kiat sehat yang disampaikan nara sumber, agar anak-anak terhindar dari jajanan yang tidak baik bagi tubuh. Dengan menghindari jajanan yang disajikan di tempat terbuka, kotor dan tercemar, tanpa penutup dan tanpa kemasan. Hindari membeli jajanan yang dibungkus dengan kertas bekas atau koran. Belajar memahami dan mengenali jajanan yang menggunakan bahan kimia berbahaya dan terlarang, seperti boraks, formalin, rhodamin B, methanyl yellow, biasanya pangan seperti itu dijual dengan harga yang sangat murah. Hindari makanan dengan warna mencolok dan rasa yang menyimpang, minuman rasanya agak pait, getir, karena kemungkinan mengandung sakarin/siklamat yang berlebihan.

Setidaknya dengan adanya kantin sekolah yang sehat dan aman bagi kesehatan, serta sajian yang sehat pula, anak-anak akan terbiasa dengan makanan sehat dan sekaligus menyadarkan diri dan orangtua untuk segera kembali ke makanan atau jajanan sehat. Kantin sekolah harus memastikan bahwa kantin memang bersih dan sehat. 

Hal ini penting, mengingat kebiasan buruk anak-anak serta rendahnya kesadaran dan pengawasan orangtua akan jajanan dan makanan anak yang sehat terutama dilingkungan sekolah. Di sinilah pihak sekolah diperlukan andilnya yakni dengan adanya Kantin Sekolah yang Sehat.“Kantin sekolah sehat tidak akan terwujud nantinya bila tanpa partisipasi seluruh pihak terkait terutama pihak sekolah”, tegasnya

327 Datang, 362 Pergi

Penerimaan CPNS tahun 2020 Kabupaten Wonosobo sebanyak 327 CPNS, sedangkan di tahun yang sama yaitu 2020 sebanyak 362 PNS purna. 327 datang tetapi 362 pergi, maka dapat disimpulkan penerimaan dan yang purna tidak seimbang. Demikian disampaikan sekretaris Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Kabupaten Wonosobo, Asngari, pada acara penyerahan SK Pensiun tahun 2020 Periode I. Bertempat di Pendopo Bupati, Senin (9/12).

Asngari juga menyampaikan bahwa pada penyerahan SK Pensiun tahun 2020 Periode I ini, sebanyak 127 PNS menerima SK Pensiun periode 1 Januari sampai 1 April 2020 dari total 362 PNS yang purna di tahun 2020.

“Penyerahan SK Pensiun ini untuk memberikan momen dengan kesan yang penuh arti, sebagaimana pada saat penerimaan SK CPNS dahulu, atau Datang tampak muka pergi tampak punggung,” pungkas Asngari.

Dari 127 PNS yang menerima SK Pensiun, terdiri dari 2 pejabat Eselon II, 2 pejabat Eselon III, 13 pejabat Eselon IV, jabatan Fungsional tertentu sebanyak 84 orang dan jabatan fungsional umum sebanyak 26 orang.

Sementara usai menyerahkan SK Pensiun, Wakil Bupati Wonosobo, Ir. Agus Subagiyo M.Si menyampaikan penghargaan yang setinggi-tingginya dan terima kasih yang sebanyak-banyaknya, kepada para PNS Purna Tugas, atas dedikasinya selama ini, dalam mengabdi kepada Pemerintah Kabupaten Wonosobo dan telah memberikan pelayanan terbaik kepada Pemerintah dan masyarakat. “purna tugas merupakan tahapan kehidupan bagi PNS. Tidak semua PNS dapat mencapai purna tugas, dikarenakan berbagai halangan. Sehingga, apabila dalam menjalankan tugas dapat  mencapai usia purna tugas, tentu merupakan dambaan bagi setiap PNS,” jelas Wabup.

“Setelah purna tugas, untuk senantiasa tetap menjaga kondisi jasmani agar selalu sehat dan bisa panjang umur. Serta senantiasa menyadari kondisi usia, namun tetap optimis, komunikatif, ceria, punya kemampuan penataan manajemen keuangan serta religious,” tambah Agus Subagiyo.

Pada prinsipnya, meskipun para PNS ini telah masuk masa purna tugas, bukan berarti berhenti berkarya. Purna tugas bukan berarti purna karya. Masa purna tugas juga merupakan suatu proses yang alami dalam dunia kepegawaian, yang tidak perlu ditakuti dan tak dapat dihindari, bahkan seharusnya masa ini adalah masa yang amat ditunggu-tunggu oleh semua PNS.

“Apa yang telah ditunjukkan para PNS selama ini, bisa menjadi motivasi bagi para PNS yang masih aktif dalam pemerintahan, khususnya dalam menjalankan tugas-tugas kepemerintahan dan pelayanan kemasyarakatan di lingkungan birokrasi Pemerintah Kabupaten Wonosobo, dengan lebih optimal lagi,” pungkas Agus Subagiyo.

Gemar Makan Ikan, Cegah Stunting

Dihadapan anak anak SD, TK dan RA Desa Sigedang Kecamatan Kejajar, Bupati Wonosobo, Eko Purnomo. SE.MM, mengajak anak anak dan orang tua siswa untuk gemar makan ikan. Karena dengan makan ikan akan mencegah terjadinya stunting atau kekurangan gizi.

Bertempat di halaman SD Negeri 1 Sigedang Kejajar, Rabu (4/12), Bupati juga menyampaikan bahwa Pemberian Makanan Tambahan Anak Sekolah (PMT-AS) dan kegiatan Gemarikan pada hari ini sebagai upaya mewujudkan generasi emas Wonosobo yang sehat dan cerdas. “Mudah-mudahan kegiatan ini membawa dampak positif, bagi peningkatan gizi anak, pemasyarakatan gerakan makan ikan, serta penanggulangan stunting di wilayah Kabupaten Wonosobo,” jelas Eko Purnomo.

Salah satu masalah kekurangan gizi yang saat ini menjadi perhatian pemerintah adalah Stunting. Stuntingtidak hanya disebabkan oleh faktor gizi buruk yang dialami oleh ibu hamil maupun anak balita, namun juga perlu diwaspadai oleh para remaja putri yang merupakan calon ibu masa depan. “Di titik inilah persiapan pembentukan generasi yang berkualitas dimulai. Ndak usah diet-dietan, ayo mulai bijak dalam memilih makanan, dan mulai kurangi konsumsi makanan cepat saji, itu kuncinya,” terang Bupati.

“Mari Bapak-bapak, Ibu-ibu, Anak-anakku semua, Saya mengajak kepada seluruhnya saja, yang muda hingga yang tua, senantiasa saling mengingatkan, untuk menerapkan pola konsumsi pangan yang Beragam, Bergizi, Seimbang dan Aman. Pola hidup bersih dan sehat juga untuk dilaksanakan dalam keseharian, cuci tangan pakai sabun sebelum dan sesudah berkegiatan. Mulai untuk membiasakan mengonsumsi makanan berbahan baku ikan, boleh dikombinasikan dengan sumber daya lokal yang ada di desa, seperti sayuran, kentang, dan lain sebagainya,” pungkas Eko Purnomo.

Sementara Kepala Bidang Perikanan Dinas Pangan Perikanan dan Pertanian Kabupaten Wonosobo, Pramuji, pada kesempatan itu menyampaikan bahwa kegiatan PMT-AS, merupakan bagian dari program perbaikan asupan gizi bagi anak usia sekolah di jenjang TK/SD dan RA. Kolaborasi dengan Gemarikan pada pemberian PMT-AS kali ini, diharapkan menjadi salah satu bentuk pengenalan makanan yang sehat dan bergizi bagi anak, dalam hal ini adalah makanan yang berbahan baku ikan. “Semoga anak-anak semua suka ya, makan berbagai produk olahan ikan dan susu sapi yang nanti dibagikan,” jelas Pramuji.

Pramuji juga menyampaikan bahwa pada kesempatan ini dibagikan 580 paket yang berisi makanan olahan ikan dan susu yang dibagikan kepada anak anak SD, TK dan RA Desa Sigedang dan 120 Paket untuk Desa Igirmranak Kecamatan Kejajar.

“Perbaikan pola konsumsi pangan yang lebih beragam dan berkualitas, pada akhirnya akan bermanfaat bagi kesehatan, kekuatan, dan kecerdasan anak. Konsumsi pangan yang berkualitas, juga diharapkan dapat mengatasi permasalahan gizi ganda, yaitu kekurangan dan kelebihan gizi,” pungkas Pramuji.