Angka Stunting Di Kabupaten Wonosobo Masih Tinggi

Selain kemiskinan, stunting juga menjadi permasalahan yang penyelesaianya difokuskan dalam program pembangunan Pemerintah Kabupaten Wonosobo. Dimana angka stunting di Kabupaten Asri ini dilihat dari data Studi Status Gizi Indonesia (SSGI) dan Aplikasi elektronik-Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (e-PPGBM) masih diatas 20 persen.

Sementara menurut Badan Kesehatan Dunia, World Health Organization (WHO), masalah kesehatan masyarakat dapat dianggap buruk jika prevalensi stunting lebih dari 20 persen. Artinya, jika secara nasional mencapai angka tersebut maka masalah stunting di Indonesia tergolong kronis. Demikian dikatakan Kepala Dinas Pengendalian Penduduk Keluarga Berencana Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPKBPPPA) Dyah Retno Sulistyowati pada acara rembuk stunting Kabupaten Wonosobo tahun 2022, rabu (23/3) di pendopo Bupati.

“Menurut WHO, manakala satu negara terdapat masalah kesehatan dapat dianggap buruk jika prevalensi stuntingnya diatas 20 persen, padahal Wonosobo tadi data SSGI maupun e-PPGBM kita masih diatas 20 persen, nah nanti kalau stunting masih diatas 20 persen secara nasonal maka masalah stunting di Indonesia tergolong kronis,” demikian dikatakan Dyah Retno Sulistyowati.

Stunting sendiri adalah kondisi gagal tumbuh pada anak balita (bayi di bawah lima tahun) akibat dari kekurangan gizi kronis sehingga anak terlalu pendek untuk usianya. Kekurangan gizi terjadi sejak bayi dalam kandungan dan pada masa awal setelah bayi lahir, akan tetapi kondisi stunting baru nampak setelah bayi berusia 2 tahun. Selain itu stunting merupakan kondisi dimana balita memiliki panjang atau tinggi badan yang kurang jika dibandingkan dengan umur. Kondisi ini diukur dengan panjang atau tinggi badan yang lebih dari minus dua standar deviasi median standar pertumbuhan anak dari WHO-MGRS. Balita stunting termasuk masalah gizi kronik yang disebabkan oleh banyak faktor seperti kondisi sosial ekonomi, gizi ibu saat hamil, kesakitan pada bayi, dan kurangnya asupan gizi pada bayi. Dan kondisi ini berefek jangka panjang hingga anak dewasa dan lanjut usia. Sehingga permasalahan ini menjadi perhatian serius bagi pemerintah, begitu juga Pemkab Wonosobo.

Menurut Dyah, sedikitnya ada tiga faktor penyebab stunting, diantaranya  pengasuhan yang kurang baik, yaitu kurangnya pengetahuan ibu mengenai kesehatan dan gizi sebelum dan pada masa kehamilan, serta melahirkan, 60% anak usia 0-6 bulan tidak mendapatkan ASI Eksklusif. Juga terbatasnya layanan kesehatan untuk ibu selama masa kehamilan.

Kurangnya akses terhadap air bersih dan sanitasi juga menjadi penyebab, dimana 1 dari 5 rumah tangga di Indonesia masih buang air besar di ruang terbuka, 1 dari 3 rumah tangga belum memiliki akses terhadap air bersih.

Penyebab lainya adalah kurangnya akses rumah tangga/ keluarga terhadap makanan bergizi. Dyah menyampaikan makanan bergizi di Indonesia masih tergolong mahal. Ia mencontohkan komoditas makanan di Jakarta 94% lebih mahal dibandingkan dengan di New Delhi, India.

Terkait permasalahan stunting ini menurut Staf Ahli Bupati Bidang Kemasyarakatan dan Sumber Daya Manusia Yusuf Hariyanto dalam paparanya menyampaikan upaya percepatan untuk mendukung target penurunan angka stunting ini. Diantaranya dengan meningkatkan kualitas cakupan pendataan, terkait alat, metode, kapasitas petugas, dan kerjasama antar kader. Konvergensi antar program sampai ke level keluarga sasaran melalaui intervensi gizi spesifik dan sensitif. Menjalin mitra startegis untuk mmeperluas cakupan intervensi. Memperluas kampanye perubahan perilaku dengan memperhatikan kearifan lokal bekerjasama dengan toma dan toga. Meningkatkan kemampuan ekonomi keluarga untuk meningkatkan kualitas pangan. Pelaksanaan Aksi Konvergensi hingga tingkat desa/kelurahan lokus perlu dikawal oleh Tim Percepatan Penurunan Stunting. Intervensi gizi spesifik dan sensitif dilaksanakan di desa lokus sesuai akar permasalahan. Serta pembinaan dan Pemantauan Aksi Konvergensi penurunan stunting hingga tingkat desa/kelurahan.

Senada dengan Dyah, Yusuf menilai, beberapa faktor penyebab stunting diantaranya pola asuh, ekonomi, infrastruktur, ibu hamil, tingkat pendidikan ibu dan faktor lainnya, kesadaran dan kesiapan calon pengantin memasuki masa pernikahan menjadi kata kunci, tidak hanya kesiapan secara ekonomi tetapi mentalitas untuk membangun sebuah keluarga menjadi sangat penting, karena keluarga merupakan lembaga terkecil yang bertanggung jawab atas tumbuh kembang anak sejak dalam kandungan, lahir dan menjalani kehidupan. Dukungan keluarga inti juga sangat diperlukan dalam proses pola asuh anak anak selanjutnya.

Ia menambahkan anak anak adalah tanggungjawab orang tua secara biologis dan orang tua lain disekitarnya, tetapi tentunya mereka tidak bisa berproses sendirian intervensi lembaga masyarakat dan pemerintah sangat diperlukan sebagai sebuah tanggungjawab memberikan warisan terbaik kepada anak cucu sebagai generasi penerus yang harus lebih berkualitas dari pendahulunya. Demikian ungkapnya melalui pesan singkat.

Sementara pada kesempatan itu Wakil Bupati Wonosobo Muhammad Albar menuturkan, masalah stunting di Kabupaten Wonosobo masih perlu mendapatkan perhatian, hal ini diperburuk oleh situasi pandemi yang menyebabkan masyarakat ragu mendatangi posyandu untuk memantau status gizi dan perkembangan anak, ditambah dengan naiknya angka pengangguran dan PHK yang menyebabkan penurunan kualitas pangan keluarga.

“Apalagi jika melihat kondisi riil di lapangan yang patut menjadi perhatian utama kita, sebab meskipun pada periode sebelumnya prevalensi kasus stunting di Kabupaten Wonosobo mencapai 10,49%, namun diperlukan upaya yang luar biasa untuk mempertahankan, bahkan menurunkan angka prevalensi tersebut,” tuturnya.

Albar menambahkan, secara teknis, Perpres Nomor 72 Tahun 2021 dituangkan dalam Rencana Aksi Nasional Percepatan Penurunan Stunting (RAN PASTI). Dengan tiga pendekatan dalam pelaksanaan RAN PASTI, yakni pendekatan keluarga berisiko stunting yang dilakukan dengan intervensi hulu, pendekatan multi sektor dan multipihak melalui pentahelix, pendekatan intervensi gizi terpadu dengan melakukan intervensi spesifik dan sensitif.

Menurutnya terdapat dua komponen penting yang wajib berjalan beriringan, untuk dapat mendukung percepatan penurunan stunting di Kabupaten Wonosobo yaitu komitmen pentahelix dalam bekerjasama dan bermitra, dan peran keluarga yang sangat penting dalam mencegah stunting pada setiap fase kehidupan. Selain itu faktor penting yang wajib diperhatikan agar upaya penurunan stunting dapat tepat sasaran, adalah kualitas data.

“Saya minta ditingkat desa/kelurahan, bidan desa dan petugas gizi puskesmas bersama-sama dengan kader di masing-masing desa/kelurahan untuk melakukan penelusuran, penemuan bayi dan balita yang berpotensi stunting. Kepada para Camat, saya minta untuk memfasilitasi serta mengkoordinir desa dan kelurahan. Pastikan kegiatan untuk penurunan dan pencegahan stunting di tingkat desa dan kelurahan, teralokasi lewat Dana Tranfer Desa dan dana yang dikelola kelurahan,” pungkasnya.

Pada rembug stunting tersebut sedikitnya ada tujuh poin yang di jadikan komitmen para stakeholder terkait. Yang ditandatangani oleh Staf Ahli Bupati Bidang Kemasyarakatan dan Sumber Daya Manusia, Kepala Bappeda, Kepala Dinas Kesehatan, Kepala Dinas PPKBPPPA, Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan UNSIQ, Camat Wonosobo serta Lurah Jaraksari.

Informasi ini juga dapat dilihat di :

https://prokompim.wonosobokab.go.id/2022/03/angka-stunting-di-kabupaten-wonosobo-masih-tinggi/

0 Comments

There are no comments yet

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *