Budidaya Sapi Perah Diharapkan Ungkit Perekonomian

Wakil Bupati Wonosobo Muhammad Albar, menyampaikan, sebagai daerah agraris dimana sebagian besar masyarakatnya adalah petani, sektor pertanian menjadi salah satu sektor unggulan penyumbang ekonomi terbesar di Kabupaten Wonosobo. Oleh karena itu, ia menilai pengembangan budidaya baik pada sub sektor pertanian, peternakan, maupun perikanan, merupakan upaya yang patut didukung.

“Saya menilai pengembangan budidaya baik pada sub sektor pertanian, peternakan, maupun perikanan, merupakan upaya yang patut didukung,” demikian disampaikan pada launching budidaya sapi perah KWT Tani Mukti Tawangsari, tepatnya di kampung Penawangan Kelurahan Tawangsari, selasa (15/2).

Demikian pula, Gus Albar menambahkan dengan ide mengoptimalkan pengolahan limbah, seperti yang dilakukan pada tempat pengolahan sampah terpadu (TPST), sehingga sampah atau limbah dapat terpilah secara baik, serta dapat dilakukan pengolahan lanjutan untuk menciptakan pemanfaatan baru, maupun untuk meminimalisir pencemaran lingkungan.

Pemanfaatan lahan juga bisa menjadi alternatif dalam rangka ketananan pangan. Yakni dengan memanfaatkan lahan terbatas di sekitar rumah untuk dijadikan lahan budidaya dalam memenuhi kebutuhan keluarga seperti sayuran, rempah, ikan, ternak, dan lain sebagainya, walau tidak banyak namun menurutnya hal itu bisa membantu. “Saat ini lahan sangat terbatas, maka dengan memanfaatkan lahan yang terbatas ini bisa membantu untuk ketahanan pangan, minimal untuk keluarga, misal dengan menanam sayuran, rempah, kolam ikan juga hewan ternak jika memungkinkan, walaupun sedikit saya yakin itu bisa membantu,” tegas Gus Albar.

Terkait budidaya sapi perah, Ketua Kelompok Wanita Tani (KWT) Tani Mukti Tawangsari Hartati mengungkapkan, kelompok ini terbentuk sejak tahun 2010 dan mulai melakukan pengolahan pada tahun 2012, didalam KWT ini berisi kegiatan peternakan, dan pengolahan hasil budidaya sapi perah. Yang diolah berupupa, yogurt, peemen susu, stick susu, kerupuk susu. Dan produksinya telah mampu menghasilkan susu perahan150 hingga 300 liter perhari. Dan pemasaranya sudah meluas nasional yang salahsatunya masuk market carefure.

“Kami tergabung dalam kelompok wanita tani ini didalmnya ada kegiatan peternakan dan pengolahan khususnya budidaya sapi perah yang hasilnya kami olah menjadi yogurt, permen susu, stick susu, kerupuk susu, dan alhamdulillah kita produksi susu sudah mencapai 150 sampai 300 liter perhari. Selain pemasaran lokal, pemasaran modern kita sudah masuk market carefure,” ungkapnya.

Pada kesempatan tersebut Wakil Bupati menyempatkan waktu untuk melakukan panen perdana kapulaga Poktan Tani Makmur milik kelompok tani setempat. Hasil dari pemanfaatan lahan yang tidak begitu luas dengan penggunaan pupuk hasil olahan Pengolahan sampah Pentassari yang juga merupakan anggota poktan Tani Makmur.

Menurut ketua Poktan Tani Makmur, Umar mengungkapkan, budidaya kapulaga yang dilakukan poktan ini memiliki program dengan tujuan akhir “Pulau Berdasi”, dimana harus melalui beberapa tahapan, yakni tahapan lanjut, pemula, utama dan pulau berdasi. Program tersebut ditargatkan pada tahun 2025 nanti sudah mencapai “Tahapan Pulau Berdasi” yaitu, siapapun yang terlibat didalam poktan ini berhak mendapatkan kesejahteraan, menurutnya.

“Untuk program poktan ini tujuanya adalah menuju pulau berdasi, dengan tahapanya yaitu lanjut, pemula, utama dan terakhir pulau berdasi, yang ditargetkan tahun 2025 nanti kita sudah sampai ke pulau berdasi, yaitu siapapun yang terlibat di dalam poktan Tani Makmur ini akan mendapatkan kehidupan yang sejatera,” ungkap Umar.

Sementara itu, kenapa memilih tanaman kapulaga Umar menjelaskan, selain untuk memenuhi kebutuhan, yang utama adalah tanaman tersebut yang paling tepat dengan agroklimaks di Tawangsari, yang cocok dengan geografisnya. Umar menyampaikan dengan budidaya yang benar diharapkan akan mendapatkan hasil yang maksimal yang dampaknya akan mengungkit perekonomian masyarakat sekitar.

“Kenapa kapulaga, karena selain ingin memenuhi kebutuhan, tanaman ini adalah yang pas  dengan agroklimaks di Tawangsari dan pas dengan geografisnya. Dengan program sistematis, kita akan mempelajari dan mengajari kepada para petani bagaimana cara bididaya kapulaga yang bener,” jelas Umar.

Selain itu Wabup juga melakukan kunjungan ke tempat produksi kain batik tulis, Kelompok Batik Abirama, yang memanfaatkan bahan baku warna alam. Salah satunya dengan pemanfaatan kayu mahoni dan akasia sebagai bahan pewarna dasar. Dimana kelompok ini, menurut penuturan ketua kelompoknya, Sakdiyah terbentuk sejak September 2015, yang anggotanya adalah mantan TKI buruh migran Tanosi. Dan saat ini sudah mencapai 100 orang anggota.

“Kami terbentuk sejak 12 September 2015,  satu kelompok mantan TKI buruh migran Tanosi dengan membuat batik tulis dengan nama Abirama. Yang beda dari kita adalah kami mengambil warna dengan bahan alami, yaitu dengan kayu mahoni dan akasia,” ungkapnya.

Informasi ini juga dapat dilihat di :

0 Comments

There are no comments yet

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *