Manfaatkan Hutan Untuk Kemaslahatan

Hutan yang Wonosobo miliki cukup luas, tetapi mayoritas adalah hutan lindung, bukan hutan produksi. Oleh karena itu kita harus meng edukasi dan juga memberikan pemahaman kepada masyarakat bahwa kondisi kontur tanah di Wonosobo memang harus selalu dijaga, biar keselamatan selalu terjaga. Dengan penanaman kayu, atau mungkin buah buahan ataupun tanaman yang sifatnya bisa mendukung konservasi agar kelestarian hutan bisa tetap terjaga. Demikian disampaikan Wakil Bupati Wonosobo, Drs. Muhammad Albar, MM, pada acara Optimalisasi kawasan hutan dengan menanam alpukat untuk meningkatkan sosial ekonomi dan tetap menjaga konservasi. Bertempat di Petak 17-3 RPH Sigedang Desa Lengkong Kecamatan Garung, Selasa (9/11).
Pada kesempatan itu Wabup juga menyampaikan bahwa kondisi geografis Wonosobo merupakan daerah yang rawan bencana utamanya tanah longsor, tanah bergerak dan memungkinkan untuk terjadinya banjir bandang. Oleh karena itu hutan yang ada harus terus dijaga dan dirawat dengan sebaik mungkin, tanpa mengurangi dari sisi ekonomi bagi warga sekitar hutan. “ masyarakat bisa merawat dan memanfaatkan hutan hutan negara tersebut. Tetapi semua harus dilakukan dengan mematuhi aturan aturan yang ada. Kita tidak bisa dengan seenaknya menggunakan hutan negara yang notabene merupakan hutan lindung, bicaralah dengan Perhutani yang berwenang tentang hutan negara. Semua harus duduk bersama, sehingga akan menguntungkan semua pihak,” ungkap Wabup.


“Seperti hari ini, apa yang dilakukan oleh Kelompok Peduli Konservasi Lahan Dikawasan Hutan, Perhutani, LMDH, KTNA dan Banser dengan menanam pohon alpukat di wilayah hutan lindung lengkong ini bisa menjadi contoh bagi wilayah lain di Wonosobo. merawat bumi atau hutan sekaligus bisa mendatangkan nilai ekonomi. Jadi manfaatkan hutan untuk kebaikan dan kemaslahatan,” pungkas Wabup.
Sementara pada kesempatan itu wakil administratur KPH Kedu Utara, Agus Nawin, S.Hut, juga menyampaikan bahwa hutan di Wonosobo memang didominasi oleh hutan lindung, dimana sesuai peruntukannya masih terbatas untuk melindungi tanah dan air. Dengan adanya program penanaman seperti alpukat, kopi, durian ternyata bisa memberikan hasil yang lebih lagi dan ini yang memang diharapkan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, bahwa kawasan hutan lindung itu kalau bisa ada kontribusi lebih, tidak hanya fungsi perlindungan alamnya.


“Kegiatan hari ini, kedepan akan sangat banyak manfaatnya. Selain bisa tetap merawat hutan untuk keamanan tanah dan air, tetapi bisa memberi nilai ekonomi lebih. Selain itu juga bisa menambah nilai sodakoh, karena secara teori disetiap tanaman kayu ataupun tanaman jangka waktu lama yang ditanam bisa menghasilkan oksigen bagi 2 orang. Namun demikian kalau mau menanam di kawasan hutan ada persyaratannya atau ketentuannya yang diatur dalam kesepakatan bersama yang dituangkan dalam perjanjian kerjasama. Dimana ada hal hal yang bisa dilakukan dan tidak bisa dilakukan di kawasan hutan. Intinya perhutani membuka peluang kerjasama bagi siapapun baik masyarakat maupun lembaga, kelompok. yang penting mengikuti aturan yang ada, tidak merusak kawasan hutan tetap menjaga pohon-pohon yang ada,” pungkas Agus Nawin
Ketua kelompok Peduli Konservasi Lahan di Kawasan hutan, Teguh Priyanto, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan awal dimulainya penanaman pohon alpukat jenis varietas HAS yang bisa ditanam di dataran tinggi dimana mempunyai nilai ekonomisnya cukup tinggi, sekitar 90 sampai 100 ribu per kilogramnya. “ kita akan menargetkan menanam pohon alpukat jenis HAS sebanyak 5000 pohon di luasan lahan sekitar 50 hektar. Untuk masa panen alpukatnya sendiri ketika pohon berusia 4 tahun dengan masa hidup dan produktik sekitar 25 samkpai 30 tahun. Untuk perawatannya juga cukup mudah, dalam 1 tahun hanya diberi pupuk sebanyak 3 kali,” pungkas Teguh.

Informasi ini juga dapat dilihat di :

0 Comments

There are no comments yet

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *