Jangan Tolak Vaksinasi Untuk Kebaikan Bersama

Animo atau antusias masyarakat terhadap vaksinasi covid 19 sangat baik. Antusiasme masyarakat bisa dilihat dari banyaknya keikutsertaan warga ketika ada vaksinasi yang dilaksanakan baik oleh Pemkab, TNI, Polri maupun lembaga lembaga lain yang melaksanakan vaksinasi Covid 19 ini.
Sekretaris Daerah Kabupaten Wonosobo, Drs. One andang Wardoyo, M.Si, ketika dimintai keterangan terkait vaksinasi Covid 19, Jumat (6/8), menyampaikan bahwa dalam rangka mempercepat terbangunnya herd immunity dan menurunkan angka kematian yang cukup tinggi, kepada masyarakat Wonosobo yang sudah didaftarkan dan terdaftar oleh jajaran kesehatan agar tidak menolak vaksinasi dengan dalih apapun, kecuali tidak lolos screening oleh tenaga kesehatan.
“Jangan menolak vaksin, karena itu akan merugikan diri sendiri maupun orang lain, apalagi bagi warga yang sudah didaftarkan dan memenuhi syarat oleh tenaga kesehatan. Karena masih banyak sekali warga yang menginginkan dan belum berkesempatan memperoleh vaksin. Masyarakat juga perlu tahu bahwa vaksin tidak menimbulkan kesakitan dan tidak membahayakan, dan apabila ada dampak ikutan paska imunisasi (KIPI) segera lapor kepada petugas kesehatan terdekat, biar segera ditangani oleh Tim KIPI,” Jelas One Andang.


“Dan bagi warga yang akan melaksanakan vaksin, ketika melakukan screening agar jujur kepada petugas kesehatan. Jangan menyembunyikan atau berdusta ketika mempunyai riwayat penyakit, agar tidak ada hal hal yang tidak kita inginkan terjadi. Jangan ada dusta diantara kita,” ungkap Sekda.
Untuk menghentikan rantai penularan covid 19 secara cepat butuh dukungan dan partisipasi masyarakat, disamping dengan selalu menerapkan 5M juga dengan memanfaatkan vaksin yang disediakan secara gratis oleh pemerintah.
“Jangan tolak vaksinasi demi kebaikan bersama,” pungkas One Andang.
Senada, Kepala Dinas Kesehatan Wonosobo, dr. Riyatno, M.Kes, ketika dikonfirmasi juga menyampaikan bahwa Animo masyarakat sangat besar terhadap vaksinasi ini, karena pasti semua berharap mempunyai daya tahan/kekebalan terhadap penyakit yang saat ini sedang berlangsung dalam skala besar.
“Secara teori epidemiologi, kekebalan komunitas akan terbentuk dan mampu menyelamatkan banyak orang jika setidaknya 70% warga di vaksinasi dalam 2 dosis,” jelas Riyatno.
Riyatno juga menjelaskan bahwa kejadian ikutan pasca imunisasi/vaksinasi adalah hal yang mungkin terjadi pasca penyuntikan pada berbagai level usia. Karena material vaksin adalah virus/bakteri yang dilemahkan/inaktif atau komponen dari virus/bakteri tersebut. Dimana tujuannya adalah untuk membangkikan reaksi imun tubuh untuk mempertahankan diri terhadap virus/bakteri yang masuk ke tubuh, sehingga terbentuk antibodi yang akan mampu melawan antigen serupa di lain waktu.


“Sebenarnya prosesnya sama saja dengan seseorang yang terinfeksi virus/bakteri aktif, pasti muncul tanda dan gejala saat infeksi sedang berlangsung, karena ada perlawanan dari tubuh sampai terbentuk antibodi. Dan vaksin itu sendiri akan merangsang tubuh untuk memunculkan terbentuknya antibodi, dan proses inipun juga menimbulkan gejala dan tanda dari mulai ringan sampai dengan berat,” terang dr. Riyatno.
“Kejadian ikutan pasca vaksin yang sedang dan yang berat biasanya akan didapati pada orang yang mempunyai riwayat penyakit berat sebelumnya atau gangguan imunitas, makanya dalam proses vaksinasi covid 19 ini dilakukan sceening terlabih dahulu dengan asesmen yang sudah disiapkan,” tambah Riyatno.
Terkait dengan vaksinasi, Riyatno mengharapkan adanya respon dari masyarakat dan satgas di desa bahkat di tingkat RT, RW untuk segera melaporkan jika ada orang yang telah divaksin kemudian muncul gejala atau tanda. Makin cepat lapor maka respon penanganan akan lebih baik lagi.
“Untuk penanganan pasca vaksinasi, Wonosobo sendiri sudah punya pokja KIPI. Jadi setiap ada kasus laporan KIPI atau gejala pasca vaksin baik yang sedang maupun berat akan segera diinvestigasi oleh puskesmas, kemudian ditentukan perlu rawat di Rumah sakit atau pemantauan rumah saja,” pungkas dr. Riyatno.
Untuk vaksinasi sendiri, para Lansia mendapat prioritas karena resiko untuk terinfeksi covid 19 ini dinilai paling tinggi, selain ibu hamil. Oleh karena itu mereka mendapat prioritas divaksin terlebih dahulu.

0 Comments

There are no comments yet

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *