Afif-Albar Panen Wiwitan Petik Merah Kopi di Bukit Sitalang

Para pelaku dan penggiat usaha Kopi yang tergabung dalam Klaster Kopi Wonosobo menggelar sarasehan, sekaligus panen perdana atau wiwitan petik merah oleh Bupati Afif Nurhidayat, S.Ag., dan Wakil Bupati Drs. Muhamad Albar, M.M., di area kebun LMDH Argo Mulyo, bukit Setalang, Desa Tambi Kecamatan Kejajar, Kamis (10/6/2021). Dalam sarasehan yang juga dihadiri  dan sejumlah pejabat Forkopimda tersebut, terungkap adanya komitmen dari pihak perbankan untuk membantu permasalahan modal yang biasa dihadapi para pelaku usaha Kopi.

Bupati menyampaikan apresiasi dan terimakasihnya. Menurut Afif, inisiatif tersebut sangat bagus, mengingat para petani akan diajak untuk mengolah hasil pertanian secara benar sehingga bisa meningkatkan kesejahteraan bersama. “Karena disini petani tidak hanya mengolah tanaman kopi sampai panen akan tetapi bahkan sampai pada tahapan kopi siap untuk diseduh di depan konsumen,” tutur Bupati.

Selain itu, Bupati tidak bosan selalu mengingatkan dan mengajak kepada seluruh masyarakat Wonosobo, tak terkecuali para pecinta kopi. Afif berpesan ditengah masa pandemi agar komunitas kopi bersama-sama membantu pemerintah untuk selalu menerapkan protokol kesehatan demi keselamatan semuanya.

Sementara itu disela sarasehan yang digelar di Coffee Tambi tersebut, ketua Klaster Kopi Wonosobo, Muhail Effendi, mengungkapkan adanya kesediaan dari salah satu Bank BUMN untuk menyediakan skema pembiayaan bagi para pelaku usaha kopi, menjadi penyemangat agar kedepan industri bahan baku minuman paling populer di dunia itu akan semakin menggeliat. “Memang untuk para pelaku usaha kopi, kendala utama adalah pada kurangnya kemampuan pengembangan lahan karena keterbatasan modal yang dimiliki, sehingga adanya komitmen dari pihak bank ini jelas akan sangat membantu kami,” terang Muhail saat ditemui

Klaster Kopi, disebut pria yang selama 10 tahun terakhir juga menggeluti pertanian dan pengolahan green bean kopi jenis arabica dan robusta itu, saat ini tengah berupaya membantu pemerintah untuk meningkatkan produktifitas kopi yg memiliki kualitas sesuai kebutuhan pasar, khususnya untuk pasar ekspor. “Secara nyata, klaster kopi juga melakukan pendampingan kepada petani kopi supaya tanaman kopinya dirawat dengan benar sehingga menghasilkan buah yang bagus, sampai pada pemetikan buahnya juga memenuhi kriteria, yaitu setelah merah matang kemudian diproses melalui berbagai tahapan seperti sortasi warna buah, perimbangan hingga pada penjemuran, pengupasan/ hulling,” terangnya. Tak hanya sampai disitu, pihaknya juga mendampingi pada tahap sortasi biji kering/ green beans, sehingga menghasilkan kopi standar yang dikehendaki pasar internasional. Harga kopi asal Indonesia diakui Muhail cukup tinggi di pasar dunia, sehingga amat sayang apabila Wonosobo tidak mengoptimalkan potensi yang dimiliki. “Di ibukota pun nama kopi asal Wonosobo tidak kalah dengan produk kopi dari berbagai daerah lain di Indonesia,” lanjutnya.

0 Comments

There are no comments yet

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *