Desa Wisata Didorong Garap Branding

Sedikitnya sebanyak 50 orang peserta mewakili berbagai elemen pariwisata mulai dari penggiat pokdarwis, praktisi usaha wisata, hingga stakeholder OPD se-Wonosobo mengikuti agenda Bimbingan Teknis Pemahaman Branding Dan Konten Marketing di Ballroom Kresna Senin (23/9). Menurut perwakilan Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran II Kementerian Pariwisata, Surono, agenda itu ditujukan bagi para pelaku di industri pariwisata untuk bisa menciptakan konten komunikasi yang efektif dan konsisten untuk setiap penggunaan logo Wonderful Indonesia.


“Agenda Bimbingan Teknis Pemahaman Branding Dan Konten Marketing ini diharapkan bisa diterapkan di Wonosobo yang punya semua potensi di bidang wisata. Mulai dari pertanian, wisata alam, budaya, dan juga  kulinernya. Kita bahas arti dan filosofi 5 warna di logo Wonderful Indonesia berikut bagaimana aplikasinya,” ungkap Surono membuka kegiatan.
Lebih lanjut, branding Wonderful Indonesia memang diciptakan untuk mewakili keindahan budaya, alam, cita rasa (kunliner), petualangan, dan modernitas. Brand Wonderful Indonesia itu dijelaskannya sebagai janji pada wisatawan.

“Kita harus pahami betul apa yang kita punya untuk bisa ditawarkan pada wisatawan. Semoga Bimtek ini bisa bangkitkan inspirasi untuk kembangkan berbagai sektor mengingat Industri (pariwisata) ini tak lekang oleh waktu,” imbuhnya.
Pemateri utama ialah Sekjen Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia Hery Margono, yang juga menggarap beberapa branding di daerah seperti Friendly Lombok. Dijelaskan Hery bahwa salah satu modal utama dalam mempromosikan wisata ialah komunikasi yang baik dan kearifan lokal yang ada di tiap daerah. Hal itu dibenarkan Vian Feoh selaku Staf ahli komisi 10 DPR RI yang berasal dari Labuan Bajo. Vian juga menyoroti perihal penganggaran dan regulasi sebagai hakekat dasar pariwisata yang tertera di Undang-undang.

“Pariwisata merupakan integral dari pembangunan nas yg dilakukan secara sistematis, terencana terpadu, berkelanjutan dan tanggungjawab dengan tetap beri perlindungan thd nilai-nilai agama, budaya yang hidup  dalam masyarakat, kelestarian dan mutu lingkungan hidup, serta kepentingan nasional,” tuturnya mengutip peraturan perundangan tentang pariwisata.
Sehingga menurutnya wisata bukannya mengusir warga asli yang sudah hidup dan menjaga budaya sebagai bekal pariwisata. Namun menghidupi sekaligus menjadi potensi pengembangan di kawasan tersebut.

0 Comments

There are no comments yet

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *