Cegah Stunting Demi Generasi Masa Depan

WONOSOBO. Stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak balita (bayi dibawah lima tahun) akibat dari kekurangan gizi kronis sehingga anak terlalu pendek untuk usianya. Kekurangan gizi terjadi sejak bayi dalam kandungan dan pada masa awal setelah bayi lahir, akan tetapi kondisi stunting baru nampak setelah bayi berusia 2 tahun.

Balita Kerdil atau Stunting tidak hanya disebabkan oleh faktor gizi buruk yang dialami oleh ibu hamil maupun anak balita, akan tetapi disebabkan oleh banyak faktor,  secara umum beberapa penyebab stunting ialah Praktek pengasuhan yang kurang baik, termasuk kurangnya pengetahuan ibu mengenai kesehatan dan gizi sebelum dan pada masa kehamilan, serta setelah ibu melahirkan.

Status gizi dan kesehatan ibu dan anak merupakan penentu kualitas Sumber Daya Manusia, status gizi dan kesehatan ibu pada masa pra-hamil, saat kehamilannya, dan saat menyusui merupakan periode yang sangat kritis, atau yang di kenal dengan 1000 hari pertama kehidupan (HPK). Periode seribu hari pertama kehidupan ini merupakan periode yang sensitif, karena akibat yang ditimbulkan terhadap bayi pada masa ini akan bersifat permanen, dan tidak dapat dikoreksi.

Dampak buruk yang dapat ditimbulkan oleh masalah gizi pada periode tersebut, dalam jangka pendek adalah terganggunya perkembangan otak, kecerdasan, gangguan pertumbuhan fisik dan gangguan metabolisme dalam tubuh. Sedangkan dalam jangka panjang akibat buruk yang ditimbulkan adalah terjadinya stunting, menurunnya kemampuan kognitif dan prestasi belajar, menurunya kekebalan tubuh sehingga mudah sakit, fungsi-fungsi tubuh tidak seimbang, postur tubuh tidak maksimal saat dewasa, dan saat tua berisiko terkena penyakit tidak menular.

Menurut Asisten Sekda Bidang Pembangunan, Sumaedi, mengatakan di Kabupaten Wonosobo sendiri angka balita  stunting sesuai hasil pemantauan tahun 2017 sebanyak 29,34 persen. Hal tersebut disebabkan oleh kurangnya pengetahuan ibu hamil tentang gizi dan kesehatan, kegagalan pemberian ASI eksklusif, pemberian Makanan Pendamping ASI yang tidak tepat, sanitasi yang buruk, perilaku tidak sehat dan keterbatasan layanan kesehatan.

Dalam rangka perbaikan percepatan gizi dan penurunan stunting,  pemerintah pusat maupun daerah telah melakukan berbagai upaya, diantaranya pemberian tablet tambah darah, promosi ASI Ekslusif, Promosi makanan pendamping ASI, Imunisasi dasar lengkap dan suplemen vitamin A, pemberian obat cacing, serta pemantauan pertumbuhan di posyandu.

Selain itu salah satunya dengan menggelar Workshop Multi Stakeholder Cegah Stunting, kegiatan Kemitraan menuju cegah stunting melalui edukasi PHBS dan Gizi Seimbang oleh Dinas Kesehatan bekerjasama dengan PT Danone Indonesia. Yang di laksanakan di ruang mangoenkoesoemo Setda, Senin (6/5) sebagai sosialisasi tentang stunting dan mencari solusi dan langkah untuk cegah stunting di Wonosobo.

Dengan harapan melaui upaya ini, kejadian stunting akan mengalami penurunan yang signifikan, khusunya di Wonosobo. “Sejalan dengan itu, kita semua bertanggung jawab penuh untuk keberhasilan pelaksanaan Penanggulangan stunting di Kabupaten Wonosobo, namun kegiatan ini tidak bisa dilakukan sendiri oleh jajaran Dinas Kesehatan, sehingga melalui forum ini, saya mengajak semua pihak, para stakeholder, untuk mendukung pelaksanaan penanggulangan stunting”, tegas Sumaedi.

0 Comments

There are no comments yet

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *